Doa Sang Guru

doa guru

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengisahkan tentang masa kecilnya,

Di masa aku kecil, aku sering datang ke majelis para ahli fikih (fuqaha). Ketika datang kesana aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka.

Suatu ketika, muaddib (guru) berkata kepadaku, “Berapa (pelajaran) yang kamu tulis?” “Aku menulis dua”, jawabku (maksudnya beliau menulis dua hadits, tapi tidak lengkap dalam menjawab pertanyaan muaddib-nya sehingga mengundang tawa para hadirin di majelis ilmu tersebut).

Maka salah satu syaikh di majelis tersebut menasehati mereka, “Jangan kalian tertawakan anak ini, bisa jadi suatu hari nanti kalian akan ditertawakan anak ini.”


Dengarkanlah wahai orangtua dan para guru perkataan emas sang syaikh! Beliau menanamkan kepercayaan diri kepada anak yang baru saja ditertawakan di majelis ilmu.

Syaikh tersebut –semoga Allah merahmati beliau- memberi pelajaran yang tidak pernah terlupakan oleh murid-muridnya tentang makna menghormati dan tidak merendahkan orang lain. Majelis ilmu adalah majelis terhormat, bukan majelis bullying. Dengan taufik dari Allah, motivasi sang guru meneguhkan langkah Imam Bukhari menjadi ahli ilmu terkemuka. Sebagai bukti tak terbantahkan, kitab Shahih Bukhari adalah adalah kitab yang paling shahih setelah Kitabullah. Allahu Akbar!

Maka simpanlah doa-doa terbaikmu dan lantunkan di saat yang tepat kepada murid-muridmu, wahai bapak dan ibu guru!

(Dikutip dari facebook Kuttab Al-Fatih Banda Aceh, tulisan Ust. Baidhawi Razi)

Presiden yang Di-Bully?

pemimpin zhalim

قال رسول الله ﷺ “ يقبض الله الأرض يوم القيامة ، ويطوي السموات بيمينه ثم يقول “ أنا الملك أين ملوك الأرض؟ “ البخاري 7382

Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari Kiamat dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya, lalu Ia berseru, ‘Akulah Raja, mana para raja dunia?’.”

Allah tunjukkan kekuasan-Nya pada hari Kiamat dengan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Fakta yang belum terjadi tapi harus sudah diyakini. Hari itu yang Allah hinakan adalah para penguasa di dunia. Bisa raja, bisa perdana menteri, bisa presiden, dll.

Semuanya dipanggil dalam konteks ‘bully’. Saat Allah pamerkan kekuasaan-Nya sambil ‘mem-bully’ mantan-mantan penguasa dunia seolah membawa pesan bahwa yang paling Allah murkai adalah para ‘pesaing’ kekuasaan-Nya. Yang paling Allah musuhi adalah para penguasa dunia yang menggunakan kekuasaannya untuk durhaka kepada Allah, tak gunakan aturan Allah.

Oleh sebab itu, durhaka paling bejat dan destruktif adalah kedurhakaan yang dipayungi kekuasaan, legal secara konstitusi dan dikawal tentara serta polisi. Bukan tukang sihir yang Allah sebut, bukan koruptor, bukan pendeta, bukan perampok, bukan pezina, dsb. Melainkan yang Allah ancam pertama kali adalah para penguasa.

(diinisiasi dari kultwit Ust. Lukman Hakim, Lc; @LHSyuhada)

Selamat Dunia Akhirat(?)

fitrah anak

Papan baliho iklan sebuah sekolah kenamaan yang mejeng di pinggir jalan yang biasa saya lewati, ternyata berhasil mengusik perhatian. Strategi marketing yang sukses. Jargonnya nggak nanggung. “Selamat Dunia Akhirat”. Sambil lewat, saya hanya bisa mengamini. Mudah-mudahan segenap jajaran instansi sekolah tersebut benar-benar berkomitmen dengan visinya. Kerja keras.

Selamat dunia akhirat. Tentu ini sebuah visi besar yang harus diapresiasi. Rata-rata sekolah berbasis Islam memanggul cita-cita yang sama. Namun mengawal proses untuk mewujudkannya adalah konsekuensi lain dari ‘iming-iming’ itu. Sungguh, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan sarana dan fasilitas di dalamnya.

Memilihkan sekolah atau metode pendidikan terbaik bagi anak-anak kita memang bagian dari ikhtiar. Namun buah dari ikhtiar tidak jatuh jauh dari tujuan dan niat kita. Bagi lembaga maupun nonlembaga pendidikan pun demikian. Menyediakan berbagai fasilitas terbaik bagi anak didik juga bagian dari ikhtiar. Namun ketiadaan sumber daya manusia yang beradab, menjadikan segala fasilitas itu tiada artinya. Niat yang benar tidak selalu berbuah baik. Ikhtiar yang baik juga tidak selalu berdasar niat yang benar. Keduanya disebut ujian. Namun semestinya, niat yang jujur sejalan dengan ikhtiar yang benar.

Guru-guru berkualitas internasional bisa saja kita ‘beli’ ilmu dan pengalamannya. Namun, tidak ada yang mampu membeli keikhlasannya, kecuali Allaah. Anak-anak yang lugu, polos, dan lucu-lucu itu bisa saja kita titipkan pada lembaga-lembaga berkelas internasional. Namun, tidak ada yang ‘menjual’ fitrahnya yang bersih dan lurus, kecuali Allaah.

Lalu berhasratkah kita para orangtua dan pendidik ‘membeli’ fitrahnya? Tidak ada alat tukar fitrah anak-anak kita selain dengan fitrah itu sendiri. Tukar dengan iman kita. Tukar dengan doa kita. Tukar dengan kesabaran kita. Tukar dengan keikhlasan kita. Tukar dengan ikhtiar terbaik kita; ikhtiar yang diridhai-Nya.

Laa haula walaa quwwata illaa billaah…